DIREKSI & MANAGEMENT SERTA REDAKSI MEDIA ONLINE DIGITAL pgribeltim.com MENGUCAPKAN SELAMAT BERTUGAS KEPADA PENGURUS PGRI KABUPATEN BELITUNG TIMUR PERIODE MASA BHAKTI 2025-2030 SEMOGA AMANAH DENGAN VISI & MISI NYA AAMIIN

Dari Kehilangan Menuju Kebangkitan Seni Bangka Belitung

BangkaPostNews
19 Apr 2026 01:03
5 minutes reading

BangkaPost.News | ArtaSariMediaGroup ~ Kepergian seorang tokoh seni sering kali meninggalkan ruang hening yang terasa panjang. Namun dalam keheningan itu pula, lahir harapan dan panggilan untuk melanjutkan perjuangan.

Hal inilah yang kini dirasakan oleh masyarakat Bangka Belitung pasca berpulangnya Sidiq Said Hamid—sosok yang selama ini dikenal sebagai penjaga denyut seni dan budaya di Negeri Serumpun Sebalai.

Di tengah suasana duka, muncul suara yang mengajak untuk bangkit dan melanjutkan estafet kebudayaan. Suara itu datang dari Rajo Ameh, CEO AUKBABEL sekaligus aktivis yang konsisten mendorong kemajuan daerah.

Dalam keterangannya kepada media, Rajo Ameh menyampaikan harapan yang sederhana namun sarat makna: agar di setiap kabupaten dan kota di Bangka Belitung lahir musisi dan seniman baru.

Harapan ini bukan sekadar wacana, melainkan panggilan kolektif bagi generasi muda untuk mengambil peran dalam menjaga keberlanjutan identitas budaya daerah.

“Kita harus tetap menjaga agar seni dan budaya kite tetap hidup,” ujar Rajo Ameh dengan nada tegas namun penuh kepedulian.

Pernyataan tersebut menjadi refleksi bahwa seni bukan hanya milik masa lalu, melainkan fondasi yang harus terus dirawat agar tetap relevan di masa kini dan masa depan.

Bangka Belitung dikenal memiliki kekayaan budaya yang unik, mulai dari musik tradisional, tari-tarian khas, hingga tradisi lisan yang diwariskan secara turun-temurun.

Namun, tantangan globalisasi dan perubahan gaya hidup modern sering kali membuat generasi muda menjauh dari akar budayanya. Dalam konteks ini, kehadiran figur-figur inspiratif seperti Rajo Ameh menjadi penting untuk membangun kembali kesadaran kolektif.

See also  Prancis Tegaskan Diplomasi di Tengah Ketegangan Timur Tengah

Sebagai aktivis yang menjunjung tinggi pepatah “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,” Rajo Ameh menekankan pentingnya adaptasi tanpa kehilangan jati diri.

Ia percaya bahwa modernitas tidak harus menghapus tradisi, melainkan bisa berjalan beriringan dengan inovasi. Seni dan budaya, menurutnya, harus terus berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan esensi lokalnya.

Lebih lanjut, Rajo Ameh mengajak para musisi, koreografer, dan pelaku seni lainnya untuk tidak hanya berkarya, tetapi juga berperan sebagai agen pelestarian.

“Semoga hal ini juga menjadi perhatian oleh para musisi dan koreografer lainnya agar kita bisa terus melestarikan seni dan budaya Bangka Belitung seperti daerah lainnya,” paparnya.

Ajakan ini mengandung pesan yang kuat: bahwa pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan juga seluruh elemen masyarakat. Setiap individu memiliki peran, sekecil apa pun, dalam menjaga keberlangsungan warisan budaya.

Dalam perspektif yang lebih luas, seni dan budaya bukan hanya soal identitas, tetapi juga memiliki nilai strategis dalam pembangunan daerah.

Rajo Ameh menyoroti bahwa sektor pariwisata sangat bergantung pada kekuatan budaya lokal. “Seperti kita ketahui, seni dan budaya adalah penopang utama berkembangnya sebuah pariwisata di daerah tersebut termasuk di Bangka Belitung,” jelasnya.

Pernyataan ini selaras dengan tren global di mana wisata berbasis budaya semakin diminati. Wisatawan tidak hanya mencari keindahan alam, tetapi juga pengalaman autentik yang mencerminkan kehidupan dan tradisi masyarakat setempat.

Dalam hal ini, Bangka Belitung memiliki potensi besar untuk menjadi destinasi unggulan jika mampu mengelola kekayaan budayanya dengan baik.

Namun, potensi tersebut tidak akan berkembang tanpa dukungan dari berbagai pihak. Rajo Ameh menegaskan pentingnya peran stakeholder, mulai dari pemerintah daerah, institusi pendidikan, hingga sektor swasta.

See also  20 Tahun Menunggu, Rajo Ameh Kembali Menantang Takdir Politik

Ia berharap adanya kebijakan yang lebih berpihak pada pengembangan seni dan budaya, termasuk penyediaan ruang kreatif, pelatihan, dan pendanaan bagi para seniman muda.

Selain itu, pendidikan juga menjadi kunci dalam membangun kesadaran budaya sejak dini. Integrasi nilai-nilai seni dan budaya dalam kurikulum sekolah dapat menjadi langkah strategis untuk menanamkan rasa cinta terhadap warisan lokal.

Generasi muda perlu dikenalkan tidak hanya pada teknologi dan ilmu pengetahuan modern, tetapi juga pada akar budaya mereka sendiri.

Di era digital, peluang untuk mempromosikan seni dan budaya juga semakin terbuka lebar. Platform media sosial dan teknologi kreatif dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan karya-karya lokal ke tingkat nasional bahkan internasional.

Namun, hal ini membutuhkan kesiapan dan kemampuan adaptasi dari para pelaku seni.

Rajo Ameh melihat ini sebagai peluang sekaligus tantangan. Ia mendorong para seniman untuk tidak takut berinovasi dan memanfaatkan teknologi sebagai alat untuk memperluas jangkauan karya mereka.

Dengan pendekatan yang tepat, seni tradisional dapat dikemas secara modern tanpa kehilangan nilai autentiknya.

Di sisi lain, masyarakat juga memiliki peran penting sebagai penikmat dan pendukung seni. Apresiasi terhadap karya lokal harus terus ditumbuhkan agar para seniman merasa dihargai dan termotivasi untuk terus berkarya.

Budaya bukan hanya untuk dipertontonkan, tetapi juga untuk dirasakan dan dimaknai bersama.

Api yang Tak Boleh Padam: Dari Kehilangan Menuju Kebangkitan Seni Bangka Belitung

Momentum pasca kepergian Sidiq Said Hamid seharusnya menjadi titik balik bagi Bangka Belitung untuk memperkuat komitmen dalam menjaga seni dan budaya.

Kehilangan ini bukan akhir, melainkan awal dari babak baru yang menuntut keterlibatan lebih luas dari seluruh elemen masyarakat.

Narasi yang dibangun oleh Rajo Ameh bukan sekadar ajakan, tetapi juga strategi pembangunan berbasis budaya. Ia melihat bahwa kemajuan daerah tidak hanya diukur dari aspek ekonomi, tetapi juga dari kemampuan menjaga identitas dan nilai-nilai lokal.

See also  Upaya Tingkatkan Rute Penerbangan, Rajo Ameh ; Kita Dukung

Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, harapan untuk melihat lahirnya seniman-seniman baru di setiap kabupaten dan kota bukanlah hal yang mustahil. Yang dibutuhkan adalah kemauan, dukungan, dan keberanian untuk melangkah.

Pada akhirnya, seni dan budaya adalah cermin dari jiwa sebuah daerah. Jika cermin itu retak atau hilang, maka identitas pun akan memudar.

Oleh karena itu, menjaga seni dan budaya bukan hanya tugas, tetapi juga tanggung jawab moral yang harus dipikul bersama.

Seperti api yang tak boleh padam, semangat untuk melestarikan budaya harus terus dijaga, diwariskan, dan dikembangkan.

Dari Bangka Belitung, sebuah pesan penting bergema: bahwa dalam setiap nada musik, gerak tari, dan cerita rakyat, terdapat kekuatan yang mampu menyatukan, menginspirasi, dan membangun masa depan.

Dan di tengah semua itu, suara Rajo Ameh menjadi pengingat bahwa harapan selalu ada—selama kita mau bergerak dan menjaga apa yang telah diwariskan. | BangkaPost.News | */Redaksi | *** |

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

x
x