DIREKSI & MANAGEMENT SERTA REDAKSI MEDIA ONLINE DIGITAL pgribeltim.com MENGUCAPKAN SELAMAT BERTUGAS KEPADA PENGURUS PGRI KABUPATEN BELITUNG TIMUR PERIODE MASA BHAKTI 2025-2030 SEMOGA AMANAH DENGAN VISI & MISI NYA AAMIIN

Rudianto Tjen ; Evaluasi Rute SIN-TJQ demi Bangkitnya Pariwisata

BangkaPostNews
8 May 2026 07:58
6 minutes reading

BangkaPost.News | ArtaSariMediaGroup ~ Pariwisata Belitung kembali menjadi sorotan publik setelah dibukanya penerbangan internasional langsung rute Singapura–Belitung.

Di tengah harapan besar terhadap kebangkitan sektor wisata pascapandemi dan lesunya ekonomi daerah, Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan,

Rudianto Tjen, meminta agar jadwal penerbangan internasional tersebut segera dievaluasi demi meningkatkan kenyamanan wisatawan mancanegara sekaligus memperkuat daya tarik Pulau Belitung di mata dunia.

Pernyataan itu disampaikan Rudianto Tjen saat menghadiri silaturahmi bersama kalangan jurnalis & masyarakat di Tanjungpandan, Kamis (7/5/2026).

Dalam suasana diskusi yang hangat namun penuh gagasan strategis, Rudianto menegaskan bahwa pembukaan jalur internasional dari Singapura menuju Belitung merupakan langkah berani dan visioner yang patut diapresiasi.

Namun menurutnya, keberhasilan sebuah konektivitas internasional tidak hanya bergantung pada pembukaan rute, melainkan juga pada strategi pelayanan, kenyamanan penumpang, serta dukungan seluruh elemen daerah.

Jadwal Terlalu Pagi Dinilai Kurang Efektif

Menurut Rudianto, salah satu persoalan yang perlu segera dievaluasi adalah jadwal penerbangan yang dianggap kurang ramah bagi wisatawan asing.

Ia menilai jam keberangkatan yang terlalu pagi dapat mengurangi minat wisatawan karena harus menuju bandara sejak dini hari.

“Kalau penerbangan dari Singapura terlalu pagi, tentu wisatawan harus berangkat ke bandara sejak dini hari. Ini perlu dinegosiasikan ulang supaya penumpang lebih banyak dan wisatawan lebih nyaman datang ke Belitung,” ujarnya.

Pernyataan tersebut langsung mendapat perhatian dari berbagai kalangan, terutama pelaku pariwisata dan perhotelan di Belitung.

Sebab selama ini, aksesibilitas memang menjadi salah satu tantangan utama dalam pengembangan wisata internasional di Pulau Belitung.

Banyak wisatawan asing, khususnya dari Singapura dan Malaysia, dikenal lebih menyukai jadwal penerbangan yang fleksibel dan nyaman agar dapat memaksimalkan waktu perjalanan mereka.

Jika jadwal terlalu pagi atau terlalu terbatas, potensi kunjungan bisa menurun meskipun destinasi yang ditawarkan sangat menarik.

See also  10 Ton Pupuk Diselamatkan, Negara Lindungi Hak Petani

Harapan Mengulang Kejayaan Wisata Laskar Pelangi

Dalam kesempatan itu, Rudianto Tjen juga mengingatkan kembali masa kejayaan pariwisata Belitung saat fenomena Laskar Pelangi mampu mengangkat nama Belitung hingga ke level nasional dan internasional.

Kala itu, Belitung menjelma menjadi destinasi unggulan dengan lonjakan kunjungan wisatawan yang signifikan. Pantai-pantai eksotis, batu granit raksasa, budaya Melayu, hingga keramahan masyarakat menjadi magnet utama wisatawan.

“Kita pernah merasakan bagaimana Belitung dikenal luas karena pariwisatanya. Harapan saya, dari langkah kecil ini Bangka Belitung bisa menjadi pusat pariwisata Indonesia bagian barat,” ungkapnya penuh optimisme.

Belitung Harus Mendunia! Rudianto Tjen Dorong Evaluasi Jadwal Penerbangan Singapura–Belitung demi Kebangkitan Pariwisata Laskar Pelangi

Ucapan tersebut bukan tanpa alasan. Belitung memang memiliki modal besar untuk berkembang sebagai destinasi internasional.

Selain keindahan alam, wilayah ini juga memiliki potensi wisata bahari, geopark, kuliner khas Melayu, wisata sejarah, hingga ekonomi kreatif yang terus tumbuh.

Namun, tanpa dukungan transportasi yang optimal, seluruh potensi itu dikhawatirkan sulit berkembang maksimal.

Pariwisata Tak Bisa Hanya Bergantung pada APBD

Dalam forum tersebut, Rudianto Tjen juga menyampaikan pesan penting mengenai pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menjaga keberlangsungan penerbangan internasional tersebut.

Menurutnya, pemerintah daerah tidak bisa bekerja sendiri. Dunia usaha, hotel, restoran, biro perjalanan, hingga perusahaan swasta harus ikut berkontribusi mendukung promosi dan keberlanjutan penerbangan.

“Kalau perlu kita cari CSR perusahaan-perusahaan di sini untuk mendukung penerbangan ini. Hotel-hotel juga harus ikut berkontribusi karena ini kepentingan bersama,” katanya.

Pernyataan itu menggambarkan bahwa pembangunan pariwisata modern membutuhkan konsep gotong royong ekonomi. Di berbagai daerah wisata dunia, sektor swasta memang menjadi motor penting dalam menjaga ekosistem pariwisata tetap hidup.

Belitung sendiri memiliki banyak pelaku usaha yang selama ini menikmati dampak ekonomi dari sektor wisata. Karena itu, dukungan bersama dinilai penting agar penerbangan internasional tidak berhenti di tengah jalan akibat minimnya okupansi.

See also  PPPK di Persimpangan Fiskal, di Tengah Defisit APBN 2026

Belitung dan Tantangan Pariwisata Global

Dalam beberapa tahun terakhir, persaingan destinasi wisata semakin ketat. Daerah-daerah wisata di Asia Tenggara berlomba menghadirkan pengalaman terbaik bagi wisatawan internasional.

Singapura, Thailand, Vietnam, hingga Malaysia agresif mempromosikan wisata berbasis budaya dan alam dengan dukungan infrastruktur modern.

Di tengah persaingan itu, Belitung sebenarnya memiliki peluang besar karena menawarkan suasana yang berbeda. Wisata alam yang masih alami menjadi daya tarik utama yang kini justru dicari wisatawan dunia.

Pantai Tanjung Tinggi, Pulau Lengkuas, Pulau Kepayang, hingga wisata geopark Belitung memiliki karakter unik yang sulit ditemukan di tempat lain.

Namun para pengamat menilai tantangan terbesar Belitung bukan pada keindahan destinasi, melainkan pada konsistensi promosi, konektivitas, serta pelayanan wisata.

Karena itu, evaluasi jadwal penerbangan yang disampaikan Rudianto Tjen dianggap sebagai masukan strategis yang realistis.

Wartawan Dinilai Punya Peran Penting

Selain membahas pariwisata, Rudianto juga menyinggung pentingnya menjaga hubungan baik antara pemerintah, legislatif, partai politik, dan insan pers.

Menurutnya, wartawan memiliki peran vital sebagai jembatan informasi masyarakat. Banyak persoalan daerah yang justru diketahui lebih cepat melalui pemberitaan media.

“Saya selalu mendapatkan banyak informasi dari teman-teman wartawan, mulai dari kebutuhan masyarakat hingga persoalan di daerah. Karena itu saya minta hubungan yang baik dan komunikasi yang intens terus dijaga,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan pengakuan terhadap fungsi pers sebagai bagian penting dalam pembangunan daerah.

Di era digital saat ini, media bukan sekadar penyampai berita, tetapi juga penggerak opini publik dan pengontrol kebijakan.

Dalam konteks pariwisata, media bahkan memiliki peran besar dalam membangun citra positif daerah.

Kolaborasi Jadi Kunci Masa Depan Belitung

Pertemuan yang dihadiri sejumlah tokoh politik daerah itu juga memperlihatkan pentingnya sinergi antar-pemangku kepentingan.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Bahar Buasan, Taufik Rizani, Imam Wahyudi, Vina Cristyn Ferani, serta Wahyudi Wirayudha.

See also  Gerak Sang Jenderal ; SIDAK yang Hidupkan Ruh Pelayanan Polri

Kehadiran mereka menjadi simbol bahwa pembangunan daerah tidak bisa dilakukan secara parsial.

Belitung membutuhkan kerja sama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, DPRD, pelaku usaha, media, hingga masyarakat untuk menghadapi tantangan ekonomi global.

Apalagi sektor pariwisata memiliki efek domino yang sangat luas. Ketika wisata tumbuh, maka hotel bergerak, UMKM hidup, nelayan mendapat pasar, pengrajin berkembang, transportasi meningkat, hingga lapangan kerja terbuka.

Momentum Kebangkitan Ekonomi Belitung

Banyak pihak menilai pembukaan kembali rute Singapura–Belitung merupakan momentum penting bagi kebangkitan ekonomi daerah.

Setelah beberapa tahun menghadapi tekanan ekonomi akibat pandemi dan penurunan sektor tambang, pariwisata menjadi salah satu harapan baru masyarakat Bangka Belitung.

Karena itu, evaluasi jadwal penerbangan tidak boleh dipandang sekadar persoalan teknis, melainkan bagian dari strategi besar membangun daya saing daerah.

Jika konektivitas berhasil diperkuat, maka Belitung berpeluang menjadi destinasi unggulan Indonesia bagian barat yang mampu bersaing di tingkat internasional.

Masyarakat Diajak Ikut Menjaga Pariwisata

Di akhir pertemuan, Rudianto Tjen juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk ikut menjaga citra positif Belitung.

Menurutnya, wisatawan datang bukan hanya untuk menikmati pantai dan alam, tetapi juga ingin merasakan kenyamanan, keramahan, keamanan, dan budaya lokal yang hangat.

“Kalau misal ada persoalan di masyarakat Pulau Belitung, paling tidak kita bisa bersama-sama membantu menyelesaikannya,” tutupnya.

Ajakan tersebut menjadi pesan penting bahwa pembangunan pariwisata sejatinya bukan hanya tugas pemerintah. Kesuksesan sebuah destinasi sangat bergantung pada sikap masyarakat dalam menerima dan menjaga wisatawan.

Di tengah geliat baru pariwisata internasional Belitung, harapan besar kini kembali tumbuh.

Dari sebuah penerbangan langsung Singapura–Belitung, masyarakat berharap roda ekonomi kembali bergerak, peluang usaha terbuka, dan nama Belitung kembali bersinar di panggung wisata dunia.

Kini, tantangannya tinggal satu: mampukah seluruh pihak menjaga momentum kebangkitan ini secara bersama-sama? | BangkaPost.News | */Redaksi | *** |

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

x
x