DIREKSI & MANAGEMENT SERTA REDAKSI MEDIA ONLINE DIGITAL pgribeltim.com MENGUCAPKAN SELAMAT BERTUGAS KEPADA PENGURUS PGRI KABUPATEN BELITUNG TIMUR PERIODE MASA BHAKTI 2025-2030 SEMOGA AMANAH DENGAN VISI & MISI NYA AAMIIN

Desa Lalang ; Jejak Sejarah ke Panggung Budaya Internasional

BangkaPostNews
26 Apr 2026 01:14
5 minutes reading

BangkaPost.News | ArtaSariMediaGroup ~ Di tengah geliat pembangunan pariwisata berbasis budaya, satu nama desa di wilayah Kecamatan Manggar kian mencuat sebagai simbol kebangkitan identitas lokal: Desa Lalang.

Desa ini tidak sekadar bergerak, tetapi melangkah mantap menegaskan diri sebagai Desa Budaya yang hidup, aktif, dan relevan di tengah arus modernisasi.

Sejak ditetapkan sebagai bagian dari prioritas Program Pemajuan Kebudayaan Desa oleh Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi Republik Indonesia pada 2021, Desa Lalang menjelma menjadi laboratorium sosial-budaya yang menggabungkan tradisi, edukasi, dan pariwisata secara organik.

Tidak berhenti pada seremoni, desa ini membuktikan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan penguatan ekonomi masyarakat.

Dari Bukit Samak ke Identitas Budaya

Jejak sejarah Desa Lalang tidak bisa dilepaskan dari kawasan Bukit Samak yang sejak 1916 dikenal sebagai pusat distrik. Dari titik inilah denyut kehidupan administratif dan sosial masyarakat mulai terbentuk.

Warisan sejarah tersebut kini tidak sekadar menjadi catatan masa lalu, melainkan dihidupkan kembali melalui narasi kolektif masyarakat yang dikenal dengan istilah “Manggar Bemule”—sebuah upaya menggali, merawat, dan menuturkan ulang sejarah lokal sebagai bagian dari identitas desa.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa sejarah bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga untuk dimanfaatkan sebagai fondasi pembangunan masa depan. Desa Lalang memahami bahwa kekuatan budaya terletak pada kemampuannya untuk beradaptasi tanpa kehilangan akar.

Live In Desa Budaya: Wisata yang Menghidupkan Tradisi

Berbeda dengan konsep wisata konvensional, Desa Lalang menawarkan pengalaman imersif melalui paket “Live In Desa Budaya Lalang”. Wisatawan tidak sekadar datang, melihat, dan pulang—mereka diajak menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

See also  Soroti Penggunaan Lahan ; Gubernur Sumbar, Izin Kemenhut Jadi Penyebab Banjir & Longsor

Setibanya di desa, wisatawan akan disambut dengan kesenian Hadra Ma’indi, sebuah ekspresi budaya bernuansa religius yang sarat nilai kebersamaan. Irama tabuhan dan lantunan syair menjadi pembuka yang menghangatkan suasana.

Dari sana, wisatawan diarak menuju halaman rumah warga—rumah khas kampung Belitung yang sederhana namun penuh makna. Di titik ini, interaksi mulai terbangun. Tidak ada sekat antara tamu dan tuan rumah.

Sambutan dilanjutkan dengan Tari Selamat Datang yang dibawakan oleh pemudi desa. Gerakan yang lembut namun tegas menjadi simbol penghormatan sekaligus ajakan untuk masuk lebih dalam ke dalam ruang budaya.

Puncaknya adalah tradisi Berebut Lawang—sebuah tradisi berbalas pantun yang bukan hanya menghibur, tetapi juga mengasah kecerdasan verbal dan kepekaan budaya. Wisatawan bahkan dilibatkan langsung, menjadikan mereka bukan penonton, melainkan pelaku.

Edukasi Budaya: Belajar dari Akar

Setelah prosesi penyambutan, wisatawan dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk mengikuti sesi edukasi budaya. Di sinilah nilai utama dari Desa Budaya Lalang benar-benar terasa.

Desa Lalang Menyapa Dunia: Dari Jejak Sejarah ke Panggung Budaya Internasional di Belitung Timur

Mereka belajar Hadra Ma’indi, memahami filosofi di balik setiap irama. Mereka belajar berpantun, merangkai kata dengan makna dan estetika. Mereka belajar silat, bukan sekadar gerakan fisik, tetapi juga nilai disiplin dan penghormatan.

Selain itu, wisatawan juga diajak mempelajari tari selamat datang dan lagu daerah Belitong—sebuah upaya menjaga warisan seni agar tetap hidup di tengah generasi baru.

Tidak ketinggalan, permainan tradisional seperti Antu Bubu diperkenalkan sebagai bentuk edukasi budaya yang menyenangkan. Di tengah dominasi permainan digital, kehadiran permainan ini menjadi pengingat akan pentingnya interaksi sosial dan kreativitas.

Rasa yang Mengikat: Cencang Nenas

See also  Sidak Kilat Kapolres Beltim, Pesan Tegas Anti Tambang Ilegal

Budaya tidak hanya hadir dalam bentuk seni, tetapi juga dalam rasa. Desa Lalang menyambut tamunya dengan minuman khas “Cencang Nenas”—minuman segar berbahan dasar nanas yang mencerminkan kekayaan alam lokal.

Rasa asam-manisnya bukan hanya menyegarkan, tetapi juga menjadi simbol keramahan masyarakat. Dalam setiap tegukan, tersimpan cerita tentang tanah, tradisi, dan kebersamaan.

Kolaborasi dan Kesiapan Global

Keseriusan Desa Lalang dalam mengembangkan diri sebagai Desa Budaya tidak lepas dari kolaborasi lintas sektor. Salah satunya dengan Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Belitung yang berperan dalam meningkatkan kapasitas masyarakat, khususnya dalam bidang kepemanduan wisata.

Pelatihan ini menjadi penting, terutama dalam menghadapi peluang besar dari rencana pembukaan rute penerbangan internasional Singapura–Belitung.

Desa Lalang tidak ingin hanya menjadi penonton, tetapi siap menjadi pelaku utama dalam menyambut wisatawan mancanegara.

Kesiapan ini mencakup kemampuan komunikasi, pemahaman lintas budaya, hingga standar pelayanan yang lebih profesional. Namun demikian, semua itu tetap dibalut dengan nilai-nilai lokal yang menjadi ciri khas desa.

Budaya sebagai Pilar Ekonomi

Desa Lalang menunjukkan bahwa budaya bukan sekadar warisan, tetapi juga sumber ekonomi yang berkelanjutan. Dengan mengemas tradisi menjadi pengalaman wisata, masyarakat mendapatkan manfaat langsung tanpa harus mengorbankan identitas mereka.

Paket wisata yang mencakup edukasi budaya, makan siang, dan interaksi sosial menjadi model ekonomi berbasis komunitas yang inklusif. Setiap warga memiliki peran—dari seniman, pemandu, hingga penyedia konsumsi.

Model ini tidak hanya meningkatkan pendapatan, tetapi juga memperkuat rasa memiliki terhadap budaya itu sendiri.

Tantangan dan Harapan

Meski telah menunjukkan kemajuan signifikan, Desa Lalang tetap menghadapi tantangan. Modernisasi, perubahan gaya hidup, dan tekanan ekonomi bisa menjadi ancaman jika tidak dikelola dengan bijak.

See also  Pasca Lebaran Tetap Siaga! Strategi Polda Babel Jaga Arus Balik

Namun, dengan kesadaran kolektif yang kuat dan dukungan dari pemerintah serta komunitas, desa ini memiliki modal sosial yang cukup untuk bertahan dan berkembang.

Yang dibutuhkan adalah konsistensi, inovasi, dan komitmen untuk terus belajar.

Desa yang Menjadi Inspirasi

Desa Lalang bukan hanya tentang satu wilayah kecil di Belitung Timur. Ia adalah cerminan dari bagaimana sebuah komunitas mampu bangkit dengan kekuatan budaya.

Di tengah dunia yang serba cepat, desa ini mengajarkan bahwa melambat sejenak untuk memahami akar justru bisa menjadi langkah maju yang paling kuat.

Ketika wisatawan datang dan pulang membawa pengalaman, yang tertinggal bukan hanya kenangan, tetapi juga penghargaan terhadap budaya yang hidup.

Dan dari Desa Lalang, pesan itu mengalir ke dunia: bahwa identitas lokal bukan untuk disembunyikan, tetapi untuk dibanggakan—dan dibagikan. | BangkaPost.News | */Redaksi | *** |

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

x
x