DIREKSI & MANAGEMENT SERTA REDAKSI MEDIA ONLINE DIGITAL pgribeltim.com MENGUCAPKAN SELAMAT BERTUGAS KEPADA PENGURUS PGRI KABUPATEN BELITUNG TIMUR PERIODE MASA BHAKTI 2025-2030 SEMOGA AMANAH DENGAN VISI & MISI NYA AAMIIN

Menghidupkan Kembali Warisan Hanandjoeddin di Langit Belitung

BangkaPostNews
29 Apr 2026 03:14
5 minutes reading

BangkaPost.News | ArtaSariMediaGroup ~ Di balik hiruk-pikuk aktivitas penerbangan di Bandar Udara Internasional H.A.S. Hanandjoeddin, tersimpan kisah panjang tentang perjuangan, pengabdian, dan sejarah bangsa yang tidak boleh dilupakan.

Bandara yang kini menjadi gerbang utama Pulau Belitung itu bukan sekadar infrastruktur transportasi, melainkan simbol penghormatan terhadap seorang tokoh militer yang berperan penting dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia: H.A.S. Hanandjoeddin.

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung secara geografis terbagi menjadi dua pulau besar, yakni Pulau Bangka dan Pulau Belitung. Keduanya tidak hanya memiliki potensi sumber daya alam yang besar, tetapi juga menyimpan nilai historis yang kuat dalam perjalanan bangsa.

Dalam konteks pemerataan pembangunan dan penguatan konektivitas wilayah, kehadiran bandara internasional di Belitung sejak 2015 menjadi langkah strategis yang tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga memperkuat identitas daerah.

Bandara yang sebelumnya dikenal sebagai Bandar Udara Buluh Tumbang ini kemudian diberi nama Bandar Udara Internasional H.A.S. Hanandjoeddin. Penamaan ini bukan tanpa alasan.

Ia adalah bentuk penghormatan terhadap sosok yang tidak hanya berjasa dalam bidang militer, tetapi juga memiliki kedekatan historis dengan wilayah tersebut.

Lahir di Tanjung Tikar, Belitung, pada 5 Agustus 1910, H.A.S. Hanandjoeddin tumbuh dalam lingkungan yang sederhana. Pendidikan awalnya ditempuh di Ambacht School di Manggar, sebuah sekolah teknik yang pada masa itu menjadi tempat lahirnya tenaga-tenaga terampil.

Setelah lulus, ia bekerja di perusahaan Belanda Gemeenschappelijke Mijnbouwmaatschappij Billiton (GMB), sebuah perusahaan tambang yang beroperasi di wilayah tersebut.

Namun, perjalanan hidupnya tidak berhenti di dunia teknik. Ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942, Hanandjoeddin bergabung dengan Ozawa Butai, satuan militer bentukan Jepang.

See also  Di Negeri Sawit, Minyak Goreng Tak Terjangkau

Di sana, ia dipercaya menjadi Hancho atau pemimpin kelompok. Pengalaman ini menjadi bekal penting dalam perjalanan militernya di masa-masa berikutnya.

Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945, situasi politik dan militer di Indonesia berubah drastis. Hanandjoeddin tidak tinggal diam.

Ia bergabung dengan Kelompok Pemuda Bagian Udara di Malang yang kemudian menjadi bagian dari Badan Keamanan Rakyat (BKR). Dari sinilah kiprahnya dalam dunia militer Indonesia semakin menonjol.

Pada Oktober 1945, terbentuk BKR Udara (BKRO) di Malang yang kemudian berkembang menjadi bagian dari Tentara Keamanan Rakyat. Hanandjoeddin diangkat sebagai pelaksana teknis lapangan, sebuah posisi strategis yang menuntut kemampuan teknis sekaligus kepemimpinan.

Perannya semakin penting ketika ia dipercaya menangani pertahanan teknik udara di Pangkalan Bugis pada Januari 1946. Dalam posisi ini, ia berhasil memperbaiki pesawat pengebom Shoki (Ki-48) serta menyumbangkan pesawat Cukiu untuk Sekolah Penerbangan Darurat di Yogyakarta.

Kontribusi ini menunjukkan bahwa perjuangan tidak hanya dilakukan di garis depan, tetapi juga melalui dukungan teknis yang krusial.

Pengakuan atas dedikasinya datang pada 9 April 1946, ketika ia dianugerahi pangkat Opsir Muda III (Letnan Muda Udara) oleh Soerjadi Soerjadarma. Pangkat ini menjadi awal dari perjalanan panjangnya dalam struktur militer Angkatan Udara Republik Indonesia.

Dalam Agresi Militer Belanda I pada 1947, Hanandjoeddin kembali menunjukkan peran vitalnya. Ia bersama tim teknik berhasil menyelamatkan 15 pesawat dari Pangkalan Udara Bugis, sebuah langkah strategis yang menjaga kekuatan udara Indonesia tetap bertahan.

Tidak hanya itu, ia juga dipercaya memimpin sektor pertempuran di wilayah Malang Timur. Kepemimpinannya di lapangan menjadi bukti bahwa ia bukan hanya seorang teknisi, tetapi juga seorang komandan yang mampu mengambil keputusan dalam situasi genting.

See also  Safari Ramadhan, Kolaborasi Pemerintah Kuatkan Pembangunan & Kesejahteraan

Ketika Agresi Militer Belanda II pecah pada 19 Desember 1948, Hanandjoeddin kembali turun ke medan tempur. Ia memimpin pasukannya di Sektor Watulimo dan kemudian ditunjuk sebagai Wakil Komandan Lanud Campurdarat.

Dalam situasi perang gerilya yang diperintahkan oleh Soedirman, ia juga dipercaya sebagai Komandan Onder Distrik Militer (ODM) Pakel.

Perjalanan militernya mencerminkan dedikasi tanpa henti dalam mempertahankan kedaulatan negara. Setelah Konferensi Meja Bundar pada 27 Desember 1949, ia kembali ke Malang dan menjabat sebagai Kepala Jawatan Teknik Udara di Pangkalan Udara Bugis. Di posisi ini, ia melanjutkan pengabdiannya dalam membangun kekuatan udara Indonesia pasca kemerdekaan.

Tidak hanya berkiprah di militer, Hanandjoeddin juga pernah menjabat sebagai Bupati Belitung pada periode 1967 hingga 1972. Peran ini menunjukkan bahwa kontribusinya tidak terbatas pada bidang pertahanan, tetapi juga dalam pembangunan daerah.

Ia wafat pada 5 Februari 1995 dan dimakamkan di tanah kelahirannya di Belitung. Namun, warisan perjuangannya tetap hidup, salah satunya melalui penamaan bandara yang kini menjadi ikon Pulau Belitung.

Dalam konteks yang lebih luas, Bangka Belitung memiliki peran penting dalam sejarah Indonesia. Wilayah ini pernah menjadi tempat pengasingan tokoh-tokoh besar seperti Soekarno, Mohammad Hatta, dan Mohammad Roem. Jejak sejarah ini menambah nilai strategis daerah tersebut dalam narasi perjuangan bangsa.

Selain Hanandjoeddin, tokoh lain seperti Depati Amir juga menjadi simbol perlawanan rakyat Bangka Belitung terhadap penjajahan.

Namanya kini diabadikan sebagai bandara di Pulau Bangka, menunjukkan bahwa kedua pulau ini memiliki kontribusi besar dalam sejarah nasional.

Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sejak 2018 terus mengusulkan Hanandjoeddin sebagai pahlawan nasional. Upaya ini bukan sekadar formalitas, tetapi bentuk pengakuan atas jasa-jasa yang telah diberikan bagi bangsa.

See also  Dilantik di Atas Gunung Sampah ; Revolusi Mental Birokrasi Dimulai dari TPA Trafo Mayang

Dari perspektif pembangunan, keberadaan Bandar Udara Internasional H.A.S. Hanandjoeddin memiliki dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Bandara ini menjadi pintu masuk utama wisatawan, mendorong sektor pariwisata, serta membuka peluang investasi.

Namun, di balik fungsi ekonominya, bandara ini juga memiliki nilai edukatif. Ia menjadi pengingat bahwa setiap infrastruktur memiliki cerita, dan setiap nama yang disematkan memiliki makna.

Dalam konteks generasi muda, kisah Hanandjoeddin dapat menjadi sumber inspirasi. Bahwa perjuangan tidak selalu dilakukan dengan senjata, tetapi juga melalui keahlian, dedikasi, dan integritas. Bahwa dari daerah yang relatif kecil, lahir sosok yang mampu memberikan kontribusi besar bagi bangsa.

Ke depan, penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk terus menghidupkan nilai-nilai perjuangan tersebut. Tidak hanya melalui penamaan fasilitas publik, tetapi juga melalui pendidikan, literasi sejarah, dan kegiatan yang melibatkan generasi muda.

Dengan demikian, bandara tidak hanya menjadi tempat lalu lintas manusia dan barang, tetapi juga ruang refleksi tentang identitas dan sejarah.

Setiap pesawat yang lepas landas dari landasan Belitung membawa serta cerita tentang seorang tokoh yang pernah berjuang demi kemerdekaan.

Di langit Belitung, nama H.A.S. Hanandjoeddin terus hidup. Bukan hanya sebagai simbol, tetapi sebagai pengingat bahwa kemerdekaan yang dinikmati hari ini adalah hasil dari perjuangan panjang yang tidak boleh dilupakan. | BangkaPost.News | */Redaksi | *** |

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

x
x