DIREKSI & MANAGEMENT SERTA REDAKSI MEDIA ONLINE DIGITAL pgribeltim.com MENGUCAPKAN SELAMAT BERTUGAS KEPADA PENGURUS PGRI KABUPATEN BELITUNG TIMUR PERIODE MASA BHAKTI 2025-2030 SEMOGA AMANAH DENGAN VISI & MISI NYA AAMIIN

Gotong Royong Pengelolaan Keuangan Negara & Pemberdayaan Masyarakat Adat

BangkaPostNews
21 Nov 2025 22:50
5 minutes reading

BangkaPost.News | ArtaSariMediaGroup ~ Rangkaian acara Kemenkeu Mengajar ke-10 di Kabupaten Bangka kali ini mengambil lokasi yang penuh makna: Kampong Adat Gebong Memarong.

Kampung yang menjadi rumah bagi masyarakat adat Orang Lum di daerah Mapur ini bukan hanya terkenal dengan keberagaman budaya dan tradisinya yang kaya, tetapi juga menjadi tempat yang sempurna untuk menggambarkan pentingnya gotong royong dalam membangun bangsa, yang sejalan dengan prinsip pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Acara ini merupakan bagian dari gerakan kerelawanan Kementerian Keuangan, yang bertujuan mengedukasi masyarakat tentang literasi keuangan negara dan memberikan pemahaman mendalam tentang pengelolaan keuangan negara.

Kampong Adat Gebong Memarong terpilih sebagai lokasi acara utama, mengingat proses pembangunan rumah tradisional “memarong” oleh masyarakat setempat, yang sangat erat kaitannya dengan kolaborasi dan gotong royong—sebuah analogi sempurna bagi pengelolaan APBN.

Gebong Memarong: Masyarakat Adat dan Gotong Royong

Gebong Memarong adalah sekumpulan rumah panggung tradisional milik masyarakat adat Orang Lum yang tinggal di Mapur, Kabupaten Bangka. Rumah-rumah ini dibangun dengan metode begerujuk, yakni sistem gotong royong yang melibatkan seluruh warga dalam proses pembangunannya.

Setiap anggota masyarakat memiliki peran yang berbeda namun saling bergantung : ada yang membuat alas rumah dari kayu pohon ibul, ada yang membuat atap dari daun nipah, ada yang membuat dinding dari kulit kayu kelukup, dan ada yang menjalin bagian-bagian rumah menggunakan bilah rotan tanpa paku.

Setelah selesai, rumah tersebut dipindahkan ke lokasi yang diinginkan, lagi-lagi dengan gotong royong.

See also  Beltim Cetak Kemajuan Akses Keuangan 2025, Pekerjaannya Baru Dimulai

Proses ini merupakan gambaran yang sangat tepat mengenai kolaborasi dalam pengelolaan keuangan negara.

Sebagaimana dalam sistem APBN, yang terdiri dari berbagai fungsi yang berbeda namun memiliki tujuan yang sama—yaitu pembangunan nasional—setiap elemen masyarakat, termasuk pemerintah dan masyarakat itu sendiri, memiliki peran penting dalam keberhasilan sebuah program.

Literasi Keuangan Negara di Kampong Adat

Rangkaian acara dimulai dengan Briefing Daerah pada tanggal 9 November 2025, yang melibatkan para relawan Kemenkeu Mengajar bersama anak-anak di sekitar Kampong Adat Gebong Memarong.

Di acara ini, para relawan mengajak anak-anak berliterasi, membacakan buku, dan mendongeng untuk menanamkan kecintaan terhadap membaca serta mendorong anak-anak untuk bermimpi setinggi-tingginya.

Selain itu, sebagai bagian dari komitmen dalam memberdayakan pendidikan, para relawan juga mendonasikan Pojok Baca berupa rak yang berisi berbagai buku di Dusun Air Abik.

Antusiasme anak-anak sangat terasa ketika mereka memilih buku untuk dibaca dan bahkan beberapa dari mereka bersemangat membacakan cerita dengan suara nyaring kepada teman-temannya. Hal ini bertujuan untuk menginspirasi anak-anak di Dusun Air Abik agar terus mengejar pendidikan yang tinggi dan mewujudkan cita-cita mereka.

Hari Mengajar: Mengajarkan Literasi Keuangan dan Kebudayaan

Acara puncak, Hari Mengajar, dilaksanakan pada 10 November 2025 di tiga sekolah kolaborator di sekitar Kampong Adat Gebong Memarong: SD Negeri 23 Belinyu, SD Negeri 24 Belinyu, dan SMA Negeri 1 Riau Silip.

Di sini, para relawan Kemenkeu Mengajar memberikan materi tentang literasi keuangan negara kepada siswa, menjelaskan bagaimana APBN bekerja dalam pembangunan negara, dan mengajak mereka untuk berpikir kritis mengenai pengelolaan keuangan negara.

Selain mengajarkan literasi keuangan, para relawan juga memanfaatkan waktu untuk belajar bersama masyarakat setempat.

See also  Misteri Puteri Bunga & Jejak Raja-Raja Balok, di Timur Belitung

Mereka mempelajari keterampilan tradisional seperti nganyam (menenun), membuat gelang, dan perabotan rumah tangga dari resam dan rotan, sebuah simbol dari ketahanan dan kearifan lokal Orang Lum yang tetap dijaga hingga saat ini.

Komitmen Lembaga Adat Mapur

Bapak Asih Harmoko, Ketua Lembaga Adat Mapur, memberikan apresiasi yang besar atas kedatangan Kemenkeu Mengajar ke Kampong Adat Gebong Memarong. “Terima kasih kepada Kemenkeu Mengajar yang sudah datang dan berkegiatan di Kampong Adat Gebong Memarong. Semoga anak-anak di Dusun Air Abik mendapatkan inspirasi untuk terus mengejar mimpi dan bersekolah tinggi, bahkan hingga menjadi profesor.

Terima kasih juga karena telah melibatkan masyarakat adat dalam kegiatan yang penuh dengan kebaikan. Semoga dengan adanya kegiatan ini, semakin banyak orang yang mengenal Gebong Memarong dan keberadaan Masyarakat Adat Mapur,” kata Asih Harmoko dengan penuh haru.

APBN: Uang Kita, Untuk Kita Semua

Kegiatan Kemenkeu Mengajar ke-10 ini tidak hanya sekadar acara pengenalan literasi keuangan negara, tetapi juga sebuah refleksi tentang pentingnya gotong royong dalam menjaga dan mengelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Dalam konteks ini, APBN adalah #UangKita, uang yang berasal dari rakyat dan kembali kepada rakyat melalui berbagai program pembangunan. Setiap rupiah yang dikelola dengan baik merupakan investasi untuk masa depan Indonesia dan masa depan seluruh anak-anak Indonesia.

Sebagaimana dalam pembangunan rumah adat yang memerlukan kerja sama dan koordinasi yang solid antar warga, pengelolaan APBN juga memerlukan sinergi antar berbagai kementerian dan lembaga negara. Proses perencanaan, pembahasan, penetapan, pelaksanaan, pencatatan, dan pertanggungjawaban APBN adalah sebuah siklus yang melibatkan banyak pihak.

Tidak hanya pemerintah, tetapi juga masyarakat memiliki peran yang sangat penting dalam mengawasi dan menjaga agar APBN dapat digunakan untuk kepentingan yang sebesar-besarnya bagi rakyat.

See also  Safari Ramadhan, Kolaborasi Pemerintah Kuatkan Pembangunan & Kesejahteraan

Perubahan dari Langkah Kecil

Kemenkeu Mengajar ke-10 di Kampong Adat Gebong Memarong ini mengingatkan kita akan makna besar dari gotong royong dalam membangun bangsa.

Tidak semua perubahan besar dimulai dengan dentuman keras; seringkali, perubahan itu dimulai dengan langkah kecil yang dilakukan bersama-sama, dengan niat tulus untuk berbuat baik. Kegiatan ini adalah bukti bahwa setiap kontribusi, sekecil apapun, berperan penting dalam kemajuan yang lebih besar.

“Dengan menjaga APBN, kita menjaga masa depan kita bersama,” kata Tri Astuti Ramadhani Haliza, Kepala Bagian Perekonomian Setda Kabupaten Bangka, yang juga terlibat dalam acara ini.

Ia menegaskan bahwa kegiatan ini harus menjadi awal bagi perubahan yang lebih besar, di mana masyarakat semakin sadar akan pentingnya pengelolaan keuangan negara untuk kepentingan bersama. | BangkaPost.Com | */Redaksi | *** |

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

x
x