DIREKSI & MANAGEMENT SERTA REDAKSI MEDIA ONLINE DIGITAL pgribeltim.com MENGUCAPKAN SELAMAT BERTUGAS KEPADA PENGURUS PGRI KABUPATEN BELITUNG TIMUR PERIODE MASA BHAKTI 2025-2030 SEMOGA AMANAH DENGAN VISI & MISI NYA AAMIIN

Dari Hafiz ke Algojo : Tragedi Ibnu Muljam & Alarm Sejarah bagi Umat

BangkaPostNews
25 Feb 2026 12:13
6 minutes reading

BangkaPost.News | ArtaSariMediaGroup ~ Sejarah Islam bukan hanya dihiasi kisah kepahlawanan dan keteladanan, tetapi juga episode-episode getir yang menjadi cermin peringatan sepanjang zaman. Salah satu kisah paling dramatis dalam sejarah politik Islam awal adalah tragedi yang melibatkan seorang hafiz Alquran bernama Abdurrahman bin Amr bin Muljam al-Muradi—lebih dikenal sebagai Ibnu Muljam—yang menjadi pelaku pembunuhan terhadap khalifah keempat, Ali bin Abi Thalib.

Kisah ini bukan sekadar cerita tentang pembunuhan seorang pemimpin. Ia adalah potret kompleks tentang bagaimana kesalehan personal dapat bertabrakan dengan fanatisme ideologis, bagaimana teks suci bisa dipahami secara keliru, dan bagaimana keyakinan tanpa kebijaksanaan dapat berubah menjadi tragedi.

Mari kita telaah dengan jernih, edukatif, dan reflektif—karena sejarah bukan untuk dihakimi semata, melainkan untuk dipahami dan dijadikan pelajaran.

Latar Belakang: Dari Jahiliyah ke Barisan Pejuang

Nama lengkapnya adalah Abdurrahman bin Amr bin Muljam al-Muradi, berasal dari suku Murad di wilayah Himyar, Yaman selatan, dekat Ma’rib. Ia lahir pada masa Jahiliyah, tetapi kemudian memeluk Islam dan hijrah pada masa kepemimpinan Umar bin Khattab.

Ibnu Muljam bukan figur pinggiran. Ia dikenal sebagai penghafal Alquran, seorang qari, ahli ibadah yang tekun. Riwayat menyebutkan bahwa ia mengkhatamkan Alquran dalam waktu singkat, rajin berpuasa sunah, dan dikenal memiliki tanda hitam di dahi akibat seringnya sujud.

Reputasinya begitu baik hingga Khalifah Umar mempercayainya untuk berangkat ke Mesir dalam rangka ikut serta dalam Fath Misr (penaklukan Mesir) sekitar tahun 21–24 H bersama Amr bin al-As. Ia bahkan disebut-sebut mendapat rekomendasi sebagai pengajar Alquran dan fikih. Ia adalah guru umat, bukan sosok liar tanpa arah.

See also  Pesan Presiden untuk Siswa Sekolah Rakyat ; Semangat Belajar & Hormati Orang Tua

Dalam fase ini, tidak ada yang menyangka bahwa namanya kelak akan tercatat dalam sejarah sebagai pelaku pembunuhan salah satu tokoh paling dihormati dalam Islam.

Dari Loyalitas ke Perpecahan: Dampak Perang Siffin

Ibnu Muljam termasuk orang yang berbaiat kepada Ali bin Abi Thalib. Ia turut berada di barisan Ali dalam Perang Jamal dan Perang Siffin. Loyalitasnya terhadap kepemimpinan Ali tampak nyata.

Namun sejarah berbelok tajam setelah Perang Siffin, terutama ketika terjadi peristiwa tahkim (arbitrase) antara pihak Ali dan pihak Muawiyah I.

Bagi sebagian kelompok, keputusan menerima arbitrase dianggap sebagai bentuk kompromi terhadap hukum Allah. Dari sinilah muncul slogan terkenal: “La hukma illa lillah” — Tidak ada hukum selain milik Allah.

Kelompok yang kemudian dikenal sebagai Khawarij muncul dari kekecewaan terhadap tahkim. Mereka menganggap siapa pun yang menerima arbitrase manusia dalam perkara yang menurut mereka telah jelas hukumnya adalah telah menyimpang.

Ibnu Muljam termasuk yang beralih ke kelompok ini.

Inilah titik penting yang perlu direnungkan: perubahan ideologi tidak selalu lahir dari kebodohan, tetapi bisa dari keyakinan yang terlalu mutlak dan tidak memberi ruang dialog.

Khawarij dan Fanatisme Tanpa Kendali

Khawarij dikenal sebagai kelompok yang sangat ketat dalam memahami teks agama. Mereka menekankan kemurnian tauhid dan menolak kompromi politik. Namun dalam praktiknya, pendekatan mereka sering kali keras dan mudah mengkafirkan pihak lain.

Perang Nahrawan menjadi puncak konflik antara Ali dan kelompok Khawarij. Banyak anggota Khawarij tewas dalam pertempuran tersebut. Dendam dan kekecewaan semakin mengeras.

Dalam konteks ini, Ibnu Muljam tidak lagi melihat Ali sebagai sahabat Nabi dan khalifah sah, melainkan sebagai pihak yang dianggap “menyimpang”.

Di sinilah pelajaran penting muncul: ketika agama dipahami tanpa kebijaksanaan, ia bisa berubah menjadi alat justifikasi kekerasan.

Rencana Pembunuhan: Politik dan Tragedi

See also  Dosen Kampus UBL Diduga Lecehkan Mahasiswi-nya

Riwayat sejarah menyebutkan bahwa di Mekah, pada musim haji, Ibnu Muljam dan dua rekannya menyusun rencana pembunuhan serentak terhadap tiga tokoh: Ali di Kufah, Muawiyah di Damaskus, dan Amr bin al-As di Mesir.

Ibnu Muljam mendapat “tugas” membunuh Ali.

Di Kufah, ia bertemu dengan seorang perempuan bernama Qatham binti Syajnah dari Bani Tamim. Ayah dan saudaranya tewas dalam Perang Nahrawan. Dalam beberapa riwayat, Qatham disebut mensyaratkan pembunuhan Ali sebagai bagian dari mahar pernikahan.

Apapun detail riwayatnya, jelas bahwa unsur ideologi, dendam politik, dan emosi pribadi bercampur menjadi satu.

Pedang diasah dan diracuni. Rencana disusun dengan rapi. Yang menyedihkan, semua itu dilakukan dengan keyakinan bahwa mereka sedang menegakkan kebenaran.

Subuh Berdarah di Kufah

Tanggal 19 Ramadan 40 H. Di Masjid Agung Kufah, Ali bin Abi Thalib memimpin salat Subuh.

Saat itulah Ibnu Muljam menyerang dengan pedang beracun. Tebasan mengenai kepala Ali. Darah mengalir di tempat sujud.

Ali bin Abi Thalib kemudian wafat pada 21 Ramadan akibat luka tersebut.

Peristiwa ini mengguncang dunia Islam. Seorang khalifah, sahabat Nabi, menantu Rasulullah, gugur oleh tangan seorang yang dikenal sebagai ahli ibadah.

Ironi sejarah ini menjadi refleksi mendalam: hafalan Alquran tidak otomatis menjamin kebijaksanaan dalam memahami konteks.

Sikap Ali: Keadilan di Tengah Luka

Yang lebih menyentuh adalah sikap Ali setelah terluka. Dalam riwayat, ia berpesan agar Ibnu Muljam diperlakukan dengan baik selama ditahan. Jika ia wafat, pelaku dihukum dengan satu kali qisas—tidak lebih.

Pesan ini menunjukkan bahwa keadilan dalam Islam tidak tunduk pada amarah.

Eksekusi kemudian dilakukan sesuai hukum qisas. Tidak ada penyiksaan berlebihan. Tidak ada pelampiasan dendam.

Sikap ini menjadi pelajaran besar tentang etika hukum dan kepemimpinan.

Pelajaran Edukatif untuk Generasi Kini

See also  100 Tahun Pendidikan Teknik di Beltim ; Refleksi Seabad Warisan Ambacht Cursuus

Kisah Ibnu Muljam bukan untuk membangkitkan kebencian, tetapi untuk menjadi alarm sejarah.

Ada beberapa pelajaran penting:

1. Ilmu tanpa hikmah berbahaya.
Hafalan dan ritual ibadah tidak cukup tanpa pemahaman yang utuh dan moderat.

2. Fanatisme ideologis dapat membutakan nurani.
Ketika seseorang merasa paling benar, ia bisa menutup pintu dialog dan empati.

3. Politik dan agama perlu kebijaksanaan.
Konflik politik dalam sejarah Islam mengajarkan pentingnya musyawarah dan kesabaran.

4. Keadilan harus ditegakkan tanpa kebencian.
Sikap Ali menunjukkan bahwa bahkan terhadap pelaku kejahatan, hukum harus dijalankan secara proporsional.

Relevansi untuk Indonesia Hari Ini

Dalam konteks nasional, kisah ini sangat relevan. Indonesia sebagai bangsa majemuk membutuhkan pemahaman agama yang moderat, inklusif, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama.

Radikalisme tidak selalu datang dari orang yang jauh dari agama. Ia bisa muncul dari pemahaman yang sempit dan eksklusif.

Karena itu, pendidikan agama harus mengedepankan keseimbangan antara teks dan konteks, antara semangat dan akal sehat.

Para ulama, pendidik, dan pemimpin bangsa memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan bahwa generasi muda memahami agama sebagai rahmat, bukan sebagai alat pembenaran kekerasan.

Menutup dengan Refleksi

Ibnu Muljam bukan sekadar tokoh antagonis dalam sejarah. Ia adalah simbol bahwa manusia, betapapun religiusnya, tetap rentan terhadap kesalahan jika kehilangan keseimbangan berpikir.

Sejarah ini seperti cermin besar yang memantulkan pesan: jangan hanya sibuk memperindah tampilan luar kesalehan, tetapi bangunlah kedalaman akhlak dan keluasan wawasan.

Karena ketika keyakinan dipadukan dengan kebijaksanaan, ia melahirkan kedamaian. Namun ketika keyakinan dipasangkan dengan fanatisme buta, ia dapat berubah menjadi petaka.

Semoga generasi hari ini mampu mengambil pelajaran, menjaga persatuan, dan meneguhkan komitmen bahwa agama adalah cahaya yang menerangi—bukan api yang membakar. | BangkaPost.News | */Redaksi | *** |

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

x
x