SELAMAT DATANG DI MEDIA ONLINE BANGKAPOST.NEWS [BKA#POST] WARKOP TEH TALUA AJO SATAR MANGGAR SEDIA TEH TALUA PINANG - KOP SUSU - LONTONG PADANG - SATE PADANG - TEH MANIS & ANEKA KULINER ALAMAT JALAN RAYA TENGAH MANGGAR DEKAT SIMPANG KATER BELITUNG TIMUR [BKA#POST] INDRI TOUR TRAVEL RENTAL SIAP MELAYANI PRIBADI & KELUARGA LEBIH NYAMAN & PENUH PESONA [BKA#POST] INDRI TOUR TRAVEL RENTAL SILAHKAN HUBUNGI +62 895 330 99999 3 [BKA#POST] MEDIA ONLINE RUMAHGADANGNEWS.COM HUBUNGI +62 877 495 0000 1 [BKA#POST]

Mengukir Sejarah ; Jejak Inspiratif Brigjen Pol (Purn) Rumiah Kartoredjo

BangkaPostNews
21 Mar 2026 00:46
5 minutes reading

BangkaPost.News | ArtaSariMediaGroup ~ Dalam perjalanan panjang sejarah Kepolisian Negara Republik Indonesia, terdapat sejumlah nama yang tidak hanya tercatat sebagai bagian dari institusi, tetapi juga sebagai simbol perubahan dan kemajuan.

Salah satu sosok yang menempati posisi istimewa tersebut adalah Rumiah Kartoredjo, seorang perempuan tangguh yang berhasil menembus batas-batas tradisional dan membuktikan bahwa dedikasi, disiplin, serta kerja keras mampu membawa siapa pun mencapai puncak pengabdian.

Momentum bersejarah terjadi pada Januari 2008, ketika Sutanto selaku Kapolri melantik Rumiah sebagai Kepala Kepolisian Daerah Banten. Pelantikan ini bukan sekadar seremonial, melainkan tonggak penting dalam sejarah Polri. Untuk pertama kalinya, seorang polisi wanita dipercaya memimpin institusi kepolisian di tingkat provinsi.

Kepercayaan ini menjadi simbol bahwa kompetensi tidak mengenal batas gender, sekaligus membuka jalan bagi generasi polwan berikutnya untuk bermimpi lebih tinggi.

Perjalanan Rumiah menuju posisi tersebut tidaklah instan. Ia lahir di Tulungagung pada 19 Maret 1952, dalam keluarga sederhana yang menjunjung tinggi nilai agama dan kedisiplinan.

Sebagai anak keempat dari delapan bersaudara, ia tumbuh dalam lingkungan yang penuh keterbatasan namun kaya akan nilai kehidupan. Ayahnya, H. Kartoredjo, yang pernah menjadi polisi di masa kolonial, memiliki harapan sederhana: anak-anaknya menjadi guru, profesi yang dianggap mulia dan stabil.

Rumiah muda pun sempat memupuk cita-cita menjadi pendidik. Namun, kehidupan kerap menghadirkan jalan tak terduga. Ketertarikannya pada dunia olahraga sejak bangku sekolah menengah pertama menjadi pintu awal yang mengubah arah hidupnya.

Dari lapangan olahraga, ia belajar tentang kerja sama, ketangguhan mental, dan semangat juang—nilai-nilai yang kelak menjadi fondasi penting dalam kariernya.

See also  Tersesat di Tengah Kota, Kisah Ibu Rosmaniar Lansia Terlantar

Saat menempuh pendidikan di IKIP Surabaya pada tahun 1975, Rumiah menunjukkan bakat luar biasa di cabang olahraga softball. Ia dipercaya memperkuat tim nasional Indonesia dan berhasil meraih prestasi membanggakan dengan menyumbangkan medali emas dalam ajang SEA Games.

Prestasi ini tidak hanya mengharumkan nama bangsa, tetapi juga membentuk karakter kepemimpinan yang kuat dalam dirinya.

Semangat juang yang ditempa di arena olahraga kemudian ia bawa ke dunia pengabdian yang lebih luas. Pada tahun 1978, sebelum menyelesaikan kuliahnya, Rumiah memutuskan untuk bergabung dengan Sekolah Perwira Militer Sukarelawan (Sepa Milsukwan) ABRI. Keputusan ini menjadi titik balik penting yang mengantarkannya memasuki dunia kepolisian.

Kariernya di institusi Bhayangkara berkembang secara konsisten. Ia memulai dari posisi dasar sebagai Komandan Peleton (Danton) Seba Polwan, sebuah jabatan yang menuntut kepemimpinan langsung di lapangan.

Dengan kerja keras dan integritas tinggi, Rumiah terus menunjukkan kapasitasnya hingga dipercaya menduduki berbagai posisi strategis, termasuk sebagai Kepala Sekolah Polisi Wanita pada tahun 1999. Di posisi ini, ia tidak hanya menjadi pemimpin, tetapi juga mentor bagi generasi polwan muda.

Penunjukan Rumiah sebagai Kapolda Banten pada 2008 menjadi langkah visioner yang mencerminkan keberanian institusi dalam mendorong kesetaraan dan profesionalisme.

Saat itu, Provinsi Banten juga dipimpin oleh seorang perempuan, Ratu Atut Chosiyah. Sinergi antara dua pemimpin perempuan ini diharapkan mampu menciptakan pendekatan kepemimpinan yang lebih inklusif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Sebagai Kapolda, Rumiah dikenal memiliki gaya kepemimpinan yang tegas namun humanis. Ia tidak hanya fokus pada penegakan hukum, tetapi juga pada pendekatan sosial yang menyentuh hati masyarakat.

Baginya, kepolisian bukan sekadar institusi penegak hukum, tetapi juga mitra masyarakat dalam menciptakan rasa aman dan keadilan.

See also  Penegakan Hukum di Bumi Laskar Pelangi, Komitmen Tegas Berantas Penyelundupan

Dalam berbagai kesempatan, Rumiah menegaskan bahwa menjadi pemimpin adalah tentang tanggung jawab, bukan sekadar jabatan. Ia memahami bahwa kehadirannya sebagai Kapolda perempuan membawa harapan besar, tidak hanya bagi institusi, tetapi juga bagi perempuan Indonesia secara umum.

Oleh karena itu, ia menjalankan tugasnya dengan penuh dedikasi, menjaga kepercayaan yang telah diberikan.

Komitmen Rumiah terhadap pengembangan diri juga patut menjadi teladan. Ia terus menempuh pendidikan lanjutan di berbagai lembaga strategis, mulai dari Selapa Polri pada tahun 1990, Seskoad pada 1995, hingga Sespati Polri pada 2003.

Langkah ini menunjukkan bahwa pembelajaran adalah proses seumur hidup, terutama bagi mereka yang ingin terus berkembang dan memberikan kontribusi terbaik.

Menjelang masa purnatugas, Rumiah menutup kariernya dengan penuh kehormatan. Ia menyerahkan jabatan kepada Agus Kusnadi dalam sebuah upacara serah terima jabatan di Mabes Polri. Momen tersebut bukan sekadar pergantian kepemimpinan, tetapi juga simbol keberlanjutan nilai-nilai profesionalisme dan integritas yang telah ia tanamkan.

Kini, meskipun telah memasuki masa purnawirawan, jejak Rumiah Kartoredjo tetap hidup dalam ingatan dan inspirasi banyak orang. Ia menjadi bukti nyata bahwa latar belakang sederhana bukanlah penghalang untuk meraih prestasi besar.

Dari seorang gadis yang bercita-cita menjadi guru, ia menjelma menjadi jenderal perempuan pertama yang memimpin kepolisian daerah di Indonesia.

Kisah Rumiah juga mengandung pesan edukatif yang kuat bagi generasi muda. Bahwa keberhasilan tidak datang secara instan, melainkan melalui proses panjang yang penuh tantangan. Disiplin, kerja keras, dan keberanian untuk mengambil keputusan besar menjadi kunci utama dalam mencapai tujuan.

Lebih dari itu, perjalanan hidupnya mengajarkan pentingnya inovasi dalam berpikir dan bertindak. Rumiah tidak terjebak dalam batasan-batasan yang ada, tetapi justru berani menembusnya. Ia membuktikan bahwa perubahan hanya bisa terjadi jika ada keberanian untuk memulai.

See also  OJK Cabut Izin PT BPR Bumi Pendawa Raharja, Nasabah Diminta Tenang & Waspadai Penipuan

Dalam konteks pembangunan nasional, sosok seperti Rumiah sangat dibutuhkan. Ia tidak hanya menjadi simbol emansipasi perempuan, tetapi juga representasi dari kepemimpinan yang berintegritas dan berorientasi pada pelayanan.

Nilai-nilai ini menjadi fondasi penting dalam membangun institusi yang kuat dan dipercaya masyarakat.

Akhirnya, kisah Brigjen Pol (Purn.) Rumiah Kartoredjo bukan sekadar cerita tentang karier individu, tetapi juga tentang perjalanan sebuah bangsa dalam mewujudkan kesetaraan, keadilan, dan kemajuan.

Ia adalah inspirasi hidup yang membuktikan bahwa setiap anak bangsa memiliki potensi untuk berkontribusi besar, asalkan memiliki tekad dan komitmen yang kuat.

Dari Tulungagung untuk Indonesia, Rumiah telah menunjukkan bahwa langit bukanlah batas. Justru, dengan semangat dan kerja keras, langit dapat ditembus untuk menggapai mimpi yang lebih tinggi. | BangkaPost.News | */Redaksi | *** |

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

x
x