SELAMAT DATANG DI MEDIA ONLINE BANGKAPOST.NEWS [BKA#POST] WARKOP HARLEX MANGGAR SEDIA KOPI HITAM - KOP SUSU - ANEKA JUS - ANEKA MIE - TEH MANIS & ANEKA KULINER ALAMAT JALAN RAYA SITU KULONG MINYAK MANGGAR DEKAT SITU KULONG MINYAK LALANG MANGGAR BELITUNG TIMUR [BKA#POST] INDRI TOUR TRAVEL RENTAL SIAP MELAYANI PRIBADI & KELUARGA LEBIH NYAMAN & PENUH PESONA [BKA#POST] INDRI TOUR TRAVEL RENTAL SILAHKAN HUBUNGI +62 895 330 99999 3 [BKA#POST] MEDIA ONLINE RUMAHGADANGNEWS.COM HUBUNGI +62 877 495 0000 1 [BKA#POST]

Ong Kim Puji Malaysia U-20, Rajo Ameh Serukan Sportivitas

BangkaPostNews
9 Sep 2026 15:08
Headline Sport 0 116
7 minutes reading

BangkaPost.News | ArtaSariMediaGroup ~ Keberhasilan Malaysia U-20 melaju ke putaran final Piala Asia U-20 2027 mendapat apresiasi dari pelatih legendaris Malaysia, Ong Kim Swee, setelah Harimau Malaya Muda memastikan tiket melalui jalur runner-up terbaik.

Di tengah rivalitas sepak bola Asia Tenggara yang kerap berlangsung sengit, Ketua Umum Suporter Ultras Garuda Minang Indonesia, Rajo Ameh, turut menyerukan agar persaingan Indonesia dan Malaysia tetap dijalankan dengan menjunjung tinggi sportivitas, etika, serta persaudaraan antarnegara serumpun.

Ong Kim Swee yang kini menjabat Direktur Teknik Program Pengembangan Sepak Bola Nasional atau National Football Development Programme (NFDP) Malaysia, memberikan penghargaan terhadap perjuangan para pemain Malaysia U-20 sepanjang babak kualifikasi.

Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak datang secara cuma-cuma. Dedikasi, pengorbanan dan kekompakan menjadi faktor penting yang membuat Malaysia mampu melewati persaingan ketat di Grup H.

“Dedikasi, pengorbanan, dan semangat kerja sama tim mereka akhirnya membuahkan hasil. Saya bangga dengan semua orang yang berkontribusi pada keberhasilan istimewa ini,” ujar Ong Kim Swee.

Malaysia memastikan tempat di putaran final setelah menutup perjalanan di Grup H dengan kemenangan tipis 2-1 atas Laos di Stadion Nasional Laos, KM16, Vientiane, Minggu (6/9).

Hasil tersebut menjadi kemenangan pertama Malaysia dalam fase grup setelah sebelumnya bermain imbang menghadapi Indonesia dan Australia.

Secara keseluruhan, Malaysia mengoleksi lima poin dari tiga pertandingan. Namun, kemenangan atas Laos tidak masuk dalam perhitungan penentuan peringkat runner-up terbaik setelah Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) menerapkan ketentuan bahwa hasil pertandingan melawan tim yang finis sebagai juru kunci grup tidak diperhitungkan.

Kebijakan tersebut berkaitan dengan mundurnya Filipina dari Grup A.

Akibatnya, hasil pertandingan menghadapi tim terbawah tidak digunakan dalam perhitungan klasemen runner-up terbaik untuk menjaga kesetaraan jumlah pertandingan antargrup.

Dengan demikian, Malaysia hanya membawa dua poin dari hasil imbang melawan Indonesia dan Australia dalam perhitungan runner-up terbaik.

Kendati demikian, jumlah tersebut sudah cukup untuk mengantarkan Harimau Malaya Muda lolos ke putaran final Piala Asia U-20 2027.

See also  Turnamen Domino-Koa Babel Pindah Lokasi, Persiapan Kian Matang

Indonesia sendiri tampil sebagai juara Grup H dan juga mengamankan tiket ke putaran final.

Sementara itu, Australia yang berstatus sebagai juara bertahan harus menerima kenyataan finis di posisi ketiga sehingga gagal mempertahankan gelarnya pada edisi mendatang.

Kelolosan dua negara bertetangga tersebut memperlihatkan ketatnya persaingan sepak bola usia muda di Asia Tenggara.

Indonesia mampu mengamankan posisi puncak, sedangkan Malaysia mendapatkan tiket melalui jalur runner-up terbaik setelah mempertahankan peluang hingga pertandingan terakhir.

Rivalitas kedua negara pun diperkirakan kembali menjadi perhatian ketika memasuki putaran final. Namun, persaingan di lapangan tidak seharusnya berkembang menjadi permusuhan di luar lapangan.

Pandangan itu disampaikan Rajo Ameh yang meminta suporter Malaysia maupun Indonesia menjaga etika dalam memberikan dukungan kepada tim masing-masing.

Menurutnya, sepak bola memang menghadirkan rivalitas, tetapi persaudaraan masyarakat di kawasan Asia Tenggara tetap harus menjadi pijakan.

Rajo Ameh mengingatkan suporter Timnas Malaysia agar tidak lagi melontarkan pernyataan yang dinilai kurang beretika terhadap Indonesia maupun pendukungnya.

Menurut dia, kedua negara memiliki hubungan yang dekat sebagai negara serumpun sehingga rivalitas olahraga semestinya menjadi ruang mempererat hubungan, bukan sebaliknya.

“Mari kita tunjukkan sportivitas olahraga yang sehat dengan bersikap yang sehat, berkata yang sehat dan bertingkah laku yang baik serta bermedsos yang bijak dalam menanggapi suporter atau Timnas negara lain,” imbau Rajo Ameh.

Menurutnya, perkembangan media sosial membuat rivalitas suporter semakin mudah meluas. Pernyataan yang dilontarkan secara spontan di ruang digital dapat dengan cepat menyebar dan berpotensi memanaskan hubungan antarsuporter.

Karena itu, ia mengajak para pendukung kedua negara menjadikan media sosial sebagai sarana memberikan dukungan secara positif.

Kritik terhadap permainan tetap dapat dilakukan, tetapi harus disampaikan dengan bahasa yang wajar, argumentatif dan tidak menyerang kelompok atau bangsa lain.

“Dalam ajang putaran final Piala Asia tahun 2027 mendatang, mari kita berkompetisi secara sehat dan bijak. Kita buktikan siapa yang terbaik dan siapa yang pulang lebih awal di ajang putaran final Piala Asia U-20 tahun 2027 mendatang,” papar Rajo Ameh.

Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa rivalitas Indonesia dan Malaysia tidak harus dihilangkan. Justru persaingan yang sehat diperlukan untuk meningkatkan kualitas sepak bola kedua negara.

See also  Jejak Pembuka Tabir, Dugaan Pembunuhan Berencana Cucu Mpok Nori

Yang harus dihindari adalah tindakan provokatif, penghinaan, ujaran kebencian, maupun perilaku suporter yang dapat mencederai semangat olahraga.

Rajo Ameh juga meminta jajaran ofisial Timnas Indonesia U-20 dan seluruh elemen Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) melakukan evaluasi secara lebih ketat terhadap kinerja pemain.

Menurutnya, lolos ke putaran final bukanlah tujuan akhir, melainkan pintu menuju tantangan yang jauh lebih besar.

Ia berharap pemain yang telah dipercaya membela Timnas U-20 mampu menjaga disiplin, konsistensi dan profesionalisme.

Setiap pertandingan di level Asia, menurutnya, membutuhkan kesiapan mental serta fisik yang lebih tinggi dibandingkan persaingan di tingkat regional.

“Official Timnas U-20 dan segenap PSSI harus lebih ketat lagi terhadap kinerja pemain agar memperoleh hasil maksimal,” harap Rajo Ameh.

Dorongan tersebut menjadi penting karena putaran final Piala Asia U-20 2027 akan mempertemukan tim-tim terbaik dari berbagai kawasan Asia. Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan status sebagai juara grup.

Skuad Garuda Muda harus meningkatkan kualitas permainan agar mampu bersaing ketika menghadapi lawan dengan karakter dan kekuatan berbeda.

Rajo Ameh juga berharap PSSI mempertimbangkan penambahan pemain naturalisasi untuk kelompok usia apabila memang dibutuhkan dan memenuhi ketentuan yang berlaku.

Menurutnya, kehadiran pemain dengan kualitas tambahan dapat menjadi salah satu opsi untuk memperkuat kedalaman skuad menghadapi persaingan di tingkat Asia.

Namun, kebijakan tersebut idealnya tetap ditempatkan sebagai bagian dari strategi pembinaan, bukan menggantikan proses pengembangan pemain lokal.

Pemain muda Indonesia harus tetap mendapatkan ruang, pengalaman kompetisi, serta program pengembangan yang berkelanjutan.

Pembinaan usia muda pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai siapa yang mampu mencetak gol atau memenangkan pertandingan.

Lebih jauh, pembinaan harus menghasilkan pemain yang memiliki karakter, disiplin, kemampuan bekerja sama, serta kesiapan menghadapi tekanan kompetisi internasional.

Hal serupa juga berlaku bagi Malaysia. Pujian Ong Kim Swee terhadap Harimau Malaya Muda memperlihatkan bahwa kerja keras dan kekompakan memiliki peran besar dalam perjalanan sebuah tim.

Kelolosan ke putaran final harus menjadi momentum untuk memperkuat sistem pembinaan, bukan sekadar menjadi prestasi yang dirayakan sesaat.

See also  Ramadan di Arena Karate : INKAI Beltim Satukan Prestasi, Sportivitas & Kebersamaan

Bagi masyarakat Indonesia dan Malaysia, persaingan sepak bola semestinya menjadi hiburan sekaligus sumber inspirasi. Rivalitas dapat menghadirkan emosi, tetapi emosi tersebut harus tetap berada dalam koridor sportivitas.

Kemenangan tentu menjadi target setiap tim. Namun, cara meraih kemenangan juga menjadi bagian penting dari nilai olahraga.

Begitu pula ketika mengalami kekalahan, sikap menerima hasil dengan lapang dada merupakan bentuk kedewasaan dalam berkompetisi.

Putaran final Piala Asia U-20 2027 karena itu bukan hanya menjadi panggung pembuktian bagi para pemain muda, tetapi juga ujian bagi perilaku suporter.

Tribun stadion dan ruang media sosial harus menjadi tempat memberikan dukungan, bukan arena saling merendahkan.

Indonesia dan Malaysia memiliki sejarah panjang dalam sepak bola. Pertemuan kedua negara hampir selalu menghadirkan perhatian besar masyarakat.

Antusiasme tersebut merupakan modal positif apabila diarahkan untuk membangun atmosfer pertandingan yang kompetitif sekaligus sehat.

Di tengah perkembangan sepak bola modern, keberhasilan sebuah tim juga tidak bisa dilepaskan dari kualitas pendukungnya. Suporter yang kritis tetapi santun dapat menjadi kekuatan moral bagi pemain.

Sebaliknya, perilaku provokatif justru berpotensi merusak citra sepak bola dan mengaburkan nilai persaudaraan yang seharusnya dijaga.

Kelolosan Malaysia dan Indonesia ke putaran final Piala Asia U-20 2027 akhirnya membawa pesan yang lebih luas. Kedua negara boleh saling bersaing untuk menjadi yang terbaik, tetapi persaingan tersebut harus tetap dilandasi rasa hormat.

Ong Kim Swee telah memberikan apresiasi terhadap kerja keras Harimau Malaya Muda. Sementara dari Indonesia, Rajo Ameh mengingatkan agar rivalitas tidak berubah menjadi permusuhan.

Kini, tantangan sebenarnya menanti. Malaysia harus membuktikan kualitasnya sebagai runner-up terbaik, sedangkan Indonesia wajib mempertahankan momentum sebagai juara Grup H. Keduanya akan memasuki panggung Asia dengan misi masing-masing.

Siapa yang nantinya melangkah lebih jauh akan ditentukan di lapangan, bukan melalui perang kata-kata di media sosial.

Sebab, sepak bola yang sehat bukan hanya tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah, tetapi tentang bagaimana sebuah pertandingan mampu melahirkan prestasi, karakter, persaudaraan dan kebanggaan yang tetap bermartabat. | BangkaPost.News | */Redaksi | *** |

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

x
x